«

»

Jan 04

Gunung Padang, Misteri Piramida yang Jadi Surga Fotografer

 
 

Beberapa waktu lalu, Gunung Padang di Cianjur, Jabar, dihebohkan dengan isu piramida. Konon, gunung ini menyimpan piramida yang lebih tua dari Piramida Mesir. Terlepas dari itu, Gunung Padang ternyata adalah surganya fotografer.

Situs megalitikum ini mampu membius saya saat berkunjung beberapa waktu lalu. Awalnya, saya penasaran terhadap tempat ini yang disebut-sebut mempunyai situs yang lebih tua dari piramida di Mesir. Alhasil, bersama 8 orang teman, saya akhirnya melakukan perjalanan ke Gunung Padang.

Kami menggunakan sepeda motor dari Jakarta, saat Rabu malam selepas pulang kerja. Dengan tujuan Cibodas, kami menghindari macet di jalanan. Setelah pagi hari yang indah di Cibodas, kami melanjutkan perjalanan ke Cianjur. Perjalanan yang sangat melelahkan, sebab kami semua belum ada yang pernah melewati jalur ini.

Akhirnya, bermodalkan GPS dari telepon selular dan bertanya pada warga sekitar, kami tiba di Warung Kondang. Dari sini sudah terlihat plang bertuliskan Situs Megalitikum Gunung Padang 20 km.

Sepanjang perjalanan, ada pemandangan rumah penduduk di kiri-kanan kami. Terang saja, jalur ini memang melewati perumahan penduduk. Namun, jalanannya kurang bagus dan penuh bebatuan. Akan tetapi, pemandangan yang tersaji di sini membuat kami semua takjub. Selain rumah penduduk, ada kebun teh dan pemandangan khas pegunungan.

Tak berapa lama, akhirnya kami sampai di Pos Situs Megalitikum Gunung Padang. Terdapat dua pilihan untuk naik ke atas, yaitu melewati anak tangga yang cukup curam dan cepat sampai, atau jalur landai tapi lebih lama sampainya.

Kami pun tiba di puncaknya. Di sini, kami berdecak kagum pada hamparan batuan andesit. Bagi para fotografer, ini merupakan tempat yang pas untuk menyalurkan hobi. Karena menurut saya, ada banyak sudut dan sisi yang dapat dijelajahi.

Sekilas tentang Situs Megalitikum Gunung Padang, ini adalah situs prasejarah di Jawa Barat. Situs ini berada di perbatasan Dusun Gunungpadang dan Panggulan, Desa Karyamukti, Kecamatan Cempaka, Kabupaten Cianjur. Luas kompleknya kurang lebih 900 m2, terletak pada ketinggian 885 mdpl dan areal situsnya mempunyai luas sekitar 3 hektar, yang menjadikannya sebagai komplek punden berundak terbesar di Asia Tenggara.

Ternyata, pada zaman dulu sekitar 2.000 tahun sebelum masehi, situs ini diperkirakan digunakan sebagai tempat pemujaan bagi masyarakat sekitarnya. Tak heran, kami melihat banyak para peziarah yang datang ke sini untuk berdoa.

Setelah puas menikmati situs dan mendengar penjelasan dari Pak Nanang, pemandu setempat, kami memutuskan untuk turun dan melanjutkan perjalanan ke Stasiun Lampegan. Stasiun ini terkenal karena Terowongan Lampegan-nya.

Terowongan terpanjang pertama yang dimiliki Indonesia pada zaman penjajahan Belanda. Pembuatan terowongan ini pun merenggut banyak korban jiwa. Terowongan ini sudah lama tidak digunakan untuk perlintasan, tapi masih digunakan sebagai jalur yang menyatukan tiap desa di sana. Eksotisme bangunan dan pemandangannya membuat saya jatuh cinta.

Setelah puas bernasis ria, kami melanjutkan perjalanan pulang karena hari sudah gelap. Saya pun pulang dengan senyum bahagia, karena masih banyak kekayaan budaya dan alam yang tersimpan rapi di atas Gunung Padang. Perjalanan ini juga membuat saya lebih jatuh cinta pada Indonesia. Indonesia bukan hanya gunung, laut, dan pantai, tapi berbagai suku, bahasa, sejarah dan kebudayannya masih banyak yang harus diulik.

 
 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *